Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

My CP

08562973367

a.n. Tamyis

Jln. Imogiri Timur Km. 9 (Tenggara SPBU Pleret)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Event " Pernikahan "

Maha suci Allah yang telah menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan. Jika surga memiliki banyak pintu dengan banyak kunci pembukanya, mungkin pernikahan adalah salah satu kunci untuk memasuki gerbangnya.
Semoga menjadi pasangan yang Sakinah, Mawaddah,Warahmah. Amiin.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram dan dijadikan-Nya diantara kamu kasih sayang. sesungguhnya itu merupakan tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir" 
(QS. Ar-Ruum :21)





Create by : Fitri Bagiati

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

EVENT ‘MITONI’ (SYUKURAN TUJUH BULANAN) ORANG HAMIL

Mitoni alias syukuran tujuh bulanan adalah suatu budaya yang diadakan oleh orang Jawa terutama Jawa Tengah. Mitoni ini diadakan sebagai wujud rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta karena anugerah yang diberikan berupa umur bayi yang lama dalam kandungan. Semua makanan dan  yang digunakan dalam acara mitoni ini harus berupa 7 rupa. Makanan serta barang-barang ini kemudian dibagikan kepada para tetangga. Adapun makanan yang biasa digunakan dalam acara mitoni yakni :  
  • Pepes Tempe
  • Pepes Kentang
  • Pepes Sayur Pare
  • Pepes Sayur Kubis
  • Pepes Kacang Kedelai
  • Telur Ayam Jawa 7 Butir
  • Nasi Tumpeng

Setelah semua makanan dibagikan kepada tetangga, kemudian pada malam harinya tuan rumah mengadakan kenduri (kendurenan) yang mengundang sanak saudara serta mengadakan doa bersama yang dipimpin oleh seorang kyai. 


Prosesi Siraman





Create By: Monika Fitriyamasari 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Upacara Adat Rabo Pungkasan Desa Wonokromo Pleret Kab. Bantul

Rabo Pungkasan merupakan upacara adat yang terdapat di Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Nama desa ini berasal dari kata Anna Karoma yang berarti benar-benar mulya, dari sinilah kemudian dikenal dengan nama Wonokromo. Desa Wonokromo terletak 10 km dari pusat Kota Yogyakarta di sebelah selatan. Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan diadakan setiap hari Rabu terakhir bulan Sapar. Sapar berasal dari bahasa arab Syafar yang berarti bulan Arab kedua. Dalam pengucapan lidah orang Jawa syafar menjadi sapar yang juga bulan Jawa kedua dalam 12 bulan. Rabo Pungkasan ini acara puncaknya adalah  Selasa malam atau malam Rebo.
Sebelum tahun 1980an Rabo Pungkasan diadakan di depan Masjid Pathok Negoro dan biasanya seminggu sebelum acara puncak sudah diadakan keramaian, yaitu pasar malam. Namun lama-kelamaan kegiatan itu semakin ramai, sehingga mengganggu kegiatan ibadah Masjid. Sekitar tahun 1985 perintah Lurah Wonokromo saat itu untuk memindahkan segala kegiatan Rabo Pungkasan diadakan di depan balai desa yakni di Lapangan Desa Wonokromo, juga untuk tahun berikutnya.

Masjid Pathok Negoro

Namun tahun 2016 kemarin terjadi kerusuhan antara masyarakat yang biasa menggunakan lapangan untuk olah raga dengan pemerintah Desa Wonokromo, karena stan-stan permainan dan penjual berada di tengah lapangan dan kondisi saat itu sedang musim hujan sehingga bisa mengakibatkan lapangan rusak. Alhamdulilah sekarang lapangannya menjadi lebih baik, kontur warna rumputnya mirip dengan yang di SSA, semoga di tahun depan tidak terjadi hal yang serupa.
Musyawarah antara Masyarakat Pecinta Bola Wonokromo MPBW dengan Pemerintah Desa Wonokromo

Kembali ke topic, Upacara ini dipilih hari Rabu terakhir dalam bulan Sapar, konon merupakan hari pertemuan antara Sri Sultan HB I dengan Mbah Kyai Faqih Usman. Berdasarkan pada hari itu kemudian masyaratkat menamakan dengan Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan. Maksud diadakan upacara adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam menyambut Upacara Rabo Pungkasan itu biasanya seminggu sebelum puncak acara telah terdapat stan-stan permainan seperti ombak banyu, trem, dermolem/bianglala, dan sebagainya. Ada juga yang menjual makanan, pakaian, bahkan mainan dan sebagainya, pasar malam ini bentuknya seperti sekaten. Acara puncak Rabo Pungkasan yaitu saat kirab lemper raksasa 2,5 meter dengan diameter 45 cm, dan beberapa gunungan hasil bumi Desa Wonokromo. Lemper diarak dari Masjid Pathok Negoro Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km. Dalam kirab ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta, menyusul kemudian lemper raksasa yang diusung oleh empat orang diikuti oleh gunungan hasil bumi. Selanjutnya yang dibelakangnya lagi adalah beberapa kelompok kesenian setempat seperti Shalawatan.

Prosesi Kirab Lemper Raksasa dari Masjid Pathok Negoro ke Balai Desa Wonokromo.

Setelah sampai Balai Desa Wonokromo diadakan pemotongan lemper raksasa oleh pejabat tinggi atau bupati Bantul yang merupakan puncak acara tersebut, yang  sebelumnya dibacakan doa. Lemper tadi dibagi-bagikan kepada tamu undangan yang hadir dan pengunjung, serta kekurangannya ditambah dengan lemper biasa yang sengaja di buat oleh panitia guna menutup kekurangan. Demikian pula gunungan yan dibawa tadi juga dibagikan pada pengunjung bahkan untuk rebutan seperti dalam acara sekaten di Kraton Ngayogyakarta. Pembuatan lemper raksasa ini dilakukan oleh dusun yang mendapat jatah di Desa Wonokromo. Setelah itu Upacara Rebo Pungkasan selesai, hanya saja untuk stan-stan permainan dan para penjual masih ada kira-kira seminggu lamanya.


Pemotongan Lemper Raksasa



Create by : M. Nor Tamyis

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kirab Budaya HUT Kab. Pacitan

Kemeriahan hari jadi Kabupaten Pacitan yang ke-271 tahun 2016 ini benar-benar sangat terasa. Puncaknya bisa dilihat, kamis (19/2/2016) . Setelah menjalani berbagai kegiatan, termasuk pisowanan agung dan pagelaran wayang kulit sebagai puncak acara Hari Jadi Kabupaten Pacitan yang ke-271 tahun.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut para tokoh Pacitan, diantaranya adalah Bupati Pacitan Indartato beserta istri, Wakil Bupati Pacitan Soedjono, Sekretaris Daerah Pacitan Suko Wiyono, Ketua DPRD Pacitan Ronny Wahyono beserta istri, Wakil Ketua DPRD Pacitan Gagarin,Forpimda, seluruh Camat, Kepala Desa se Kabupaten Pacitan dan sejumlah tokoh dan sesepuh Kabupaten Pacitan lainnya .
Bupati Pacitan, Drs. H. Indartato, MM dalam sambutannya mengajak kepada segenap masyarakat Pacitan untuk meneladani para pendahulu di Kabupaten Pacitan dengan cara mikul dhuwur mendhem jero.
Hal itu disampaikan orang nomor satu di Pacitan ini saat menyampaikan sabdotomo atau pidato utama dalam pagelaran kirab budaya Hari Ulang Tahun Kabupaten Pacitan (HUT) yang ke-271 yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan .
Dalam pidato yang berbahasa jawa tersebut, Indartato mengajak segenap masyarakat Pacitan meneladani apa yang dilakukan para sesepuh dan para pendahulu di Kabupaten Pacitan. Secara harfiah, makna mikul dhuwur mendhem jero sendiri dapat diartikan sesuatu yang harus dijunjung tinggi dan ada yang harus ditanam dalam-dalam.
“Lelakon para sesepuh ngantos jejering bupati Pacitan kathah rintangan, pramilo mugiyo kito tansah mikul dhuwur mendhem jero, menjadi pelayan ingkang sae kagem masyarakat, anggayuh Pacitan ingkang sejahtera lan kerto raharjo,” paparnya saat menyampaikan sambutannya.
Dalam acara ini sendiri, kirab budaya menjadi acara puncak peringatan Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke 271, dengan diawali dari prosesi kirab kereta kencana yang diiringi, 271 pasukan tombak, pasukan pedang, pasukan pataka, musik pengiring, kemudian 15 dokar dan tidak ketinggalan gunungan pace.
Prosesi acara sendiri diawali dengan arak – arakan Bupati Indartato hingga sampai ke Pendopo Pacitan, kemudian acara Sabdotomo, dan dilanjutkan dengan adat rebut buceng dan makan nasi tempelangan bersama warga Pacitan.

Prosesi Kirab budaya











Create by : Diyah Wulandari 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS